Berbagi Kebahagiaan dengan Semangat Kemerdekaan di Masa Pandemi

           Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun ini terasa sangat berbeda. Khidmatnya upacara yang seharusnya dapat diikuti oleh seluruh warga negara Indonesia, kini berubah menjadi penuh keprihatinan. Adanya pandemi Covid-19 memaksa kita untuk menjaga jarak dan tidak boleh bepergian ke luar rumah, kecuali untuk hal penting. Meskipun kita tertahan oleh pandemi untuk melakukan banyak hal, namun semangat kemerdekaan harus terus menyala dalam jiwa kita. Karena sejatinya, semangat kemerdekaan merupakan bagian dari sejarah panjang bangsa Indonesia dalam merebut kata merdeka.

           Sebagai remaja, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mengaplikasikan semangat kemerdekaan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ditopang dengan kemampuan bersosialisasi serta sejalan dengan misi sekolah, yakni misi amal dan misi sosial, maka menjalankan kegiatan sosial bukanlah suatu hal yang sulit. Terlebih di masa pandemi ini, hampir semua orang merasakan tekanan ekonomi yang sangat berat. Namun dengan dampak seperti itu, kita bisa menonjolkan cinta kasih dan welas asih kepada sesama dengan berdana. Tidak perlu biaya besar untuk bersumbangsih kepada orang lain, cukup dengan ketulusan hati untuk rela memberi maka jalinan jodoh yang baik pun akan terbentuk.

            Beberapa hari yang lalu, saya dengan teman-teman menggalang dana untuk mengadakan kegiatan sosial. Tidak ada open donation yang besar-besaran, namun dana yang berhasil kami kumpulkan terbilang besar, yakni sekitar 1 juta rupiah. Kemudian, donasi tersebut dialokasikan menjadi 20 paket sembako yang berisi beras, mie, minuman kaleng, dan berbagai jenis makanan lainnya. Meskipun persiapan yang dilakukan memang tidak banyak, namun kegiatan ini sudah direncanakan dengan cukup baik selama 2 minggu.

            Tibalah hari pelaksanaan, kami mencari beberapa orang yang dinilai memang kurang beruntung di wilayah sekitar sekolah. Mereka terdiri dari berbagai profesi, seperti pengangkut sampah, pemungut jalanan, hingga pencari barang bekas, bahkan ada pula yang benar-benar tidak memiliki pekerjaan dan hidup mereka hanya tergantung oleh pemberian dari orang sekitar.

            Banyak cerita dan latar belakang kehidupan yang saya dapatkan dari mereka, mulai dari penghasilan, penyakit yang diderita, hingga berbagai kesedihan yang mereka rasakan. Salah satu cerita yang sangat menyentuh hati saya adalah cerita dari seorang kakek pengemis yang sulit berjalan. Sehari-harinya, ia harus berjalan 300 m pergi-pulang dari jam 6 pagi hingga sebelum azan magrib berkumandang. Bagi kita yang masih sehat, 300 m terasa sangat singkat dan cepat. Namun bagi kakek tersebut, 300 m merupakan perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga. Setiap harinya, sang kakek duduk di tepi jalanan dekat perumahan Green Court sembari berharap ada yang datang menghampiri atau berhenti di depannya dan memberinya uang.

           Dua tahun lalu, beliau bekerja sebagai seorang buruh di suatu konstruksi. Namun, beliau harus dioperasi di bagian perutnya karena menderita perforasi gaster (lambung bocor). Bekas operasi tersebutlah yang membuatnya tidak mampu bergerak terlalu banyak, sehingga ia pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut. Setahun setelahnya, saat beliau sedang memasak air panas, tanpa sengaja air tersebut jatuh ke kakinya. Alhasil, kakinya pun menjadi melepuh dan membuatnya sulit berjalan.

Dokumentasi Penulis

           Kesedihan tergurat jelas di bola matanya. Ia menceritakan dengan detail setiap perjalanan hidupnya. Ceritanya dikemas secara singkat, namun maknanya begitu dalam. Dari kisah kakek tersebut, saya semakin terharu dengan perjuangan orang-orang dalam mencari sesuap nasi, makanan yang biasa bagi kita, tapi begitu berharga bagi mereka.

           Sebenarnya, kebahagiaan menjadi hak semua orang. Mereka harusnya mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dari hasil kerja keras dan setiap tetes keringat yang jatuh. Akan tetapi, masalah ekonomi yang semakin meradang akibat pandemi ini, tentunya membuat mereka lebih sulit mendapatkan semua itu. Mereka butuh jembatan yang mampu menjadi sumber penyalur kebahagiaan tersebut.

           Atas dasar itulah, kegiatan sosial ini diadakan. Kami, OSIS SMA Cinta Kasih Tzu Chi, ingin memberikan kebahagiaan bagi mereka yang masih merasakan pilu dan getir. Memang nyatanya, kebahagiaan itu relatif. Tapi, tidak ada satupun penerima sembako yang tidak tersenyum ketika kami memberikan paket tersebut di depan matanya.

           Bagi saya, kebahagiaan bukanlah suatu hal yang mudah diraih. Namun, tidak berarti mustahil untuk mendapatkannya. Karena pada dasarnya, meskipun hidup ini penuh dengan penderitaan dan kesedihan, harapan dan cinta kasih selalu ada menyertai. Ketika kita mengerti arti kepuasan dan mampu bersyukur terhadap apa yang kita punya, maka kita akan menjadi orang yang paling berbahagia.

           Dengan kegiatan sosial ini pula, saya bisa mempraktekkan pembelajaran budaya humanis secara langsung. Teori yang saya pelajari tentang menghormati dan bersumbangsih menjadi landasan praktek yang penting dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu, saya bisa lebih peka dan mengerti terhadap perasaan mereka.

           Dalam pendidikan, sangatlah penting untuk paham akan relasi antar manusia karena setiap manusia memiliki perbedaan budaya dan kebiasaan. Pemahaman tersebut perlu ditanamkan dengan pendidikan karakter yang tepat, salah satu caranya adalah pembelajaran budaya humanis. Budaya humanis dapat dipelajari oleh siapapun tanpa terbatas oleh usia.

           Namun, pembelajaran ini tidak seperti jalan pintas yang mudah dilalui begitu saja. Sejujurnya, akan banyak rintangan dan halangan yang memaksa kita untuk kembali ke kebiasaan lama. Hal itu wajar dialami oleh semua orang, karena menyucikan hati dan membina jiwa kebijaksanaan seseorang sangatlah sulit. Dan metode pengajaran yang paling efisien adalah belajar praktik dari orang sekitar yang lebih tua, baik orang tua maupun guru.

           Tak lupa pula, salah satu pelajaran terbaik saat berdonasi adalah toleransi. Dengan memahami memupuk rasa toleransi sejak dini, maka tidak akan ada keseganan ketika bertemu orang yang berbeda keyakinan, suku, ataupun ras. Saat ini, masih banyak orang yang ingin memberikan sumbangan, tapi hanya ke orang tertentu. Tentu saja hal itu dapat menimbulkan disintegrasi antar masyarakat.

           Tidak sulit untuk memahami persamaan dan kesetaraan. Jika kita memiliki sikap welas asih, maka hati akan menjadi lapang dan penuh toleransi. Jika kita bersukacita dan ikhlas tanpa pamrih, maka niat memberi akan menjadi murni.

Leave a comment